Analisis Lelang Konstruksi Dari Basis Internet Dan Metode

 

UU  nomor  18  tahun  1999  tentang  jasa  usaha konstruksi  mensyaratkan  bahwa pemilihan  jasa konstruksi  dilakukan  dengan  pelelangan  umum dan  pelelangan  terbatas  melalui  suatu  persaingan yang   sehat   untuk   mendapatkan   penyedia   jasa konstruksi atau kontraktor   yang   andal   dan   mampu menghasilkan   bangunan   yang berkualitas   dan sesuai  spesifikasi,  jangka  waktu  dan  biaya  yang ditetapkan. Maka dari itu perusahaan konstruksi perlu melakukan analisis lelang konstruksi sebagai pertimbangan tender tersebut jatuh ke perusahaan anda.

Menurut Ervianto (2005:49) pelelangan merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan barang/jasa dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihak yang terkait secara taat azas sehingga terpilih penyedia terbaik.

Sedangkan menurut Daryatno (2003) tender pelaksanaan suatu bangunan dalam bidang pemborongan jasa kontruksi, atau sering disebut pelelangan, adalah suatu sistem pengadaaan bahan dan jasa. Dalam bidang jasa konstruksi, tender pelaksanaan dilakukan oleh pemberi tugas/ pemilik proyek, dengan mengundang beberapa perusahaan kontraktor untuk mendapatkan satu pemenang yang mampu melaksanakan pekerjaan sesuai persyaratan yang ditentukan dengan harga wajar dan dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi mutu ataupun waktu pelaksanaan.

Analisis Lelang Konstruksi Berbasis Internet

analisis lelang konstruksi

Dalam menyikapi era globalisasi pemerintah berupaya melakukan perubahan dalam peraturan proses pelelangan pekerjaan konstruksi dimana proses pelelangan pekerjaan konstruksi diharapkan menjadi lebih efisien, efektif, terbuka, bersaing, transparan, adil dan akuntabel. Seiring dengan kemajuan teknologi maka proses pelelangan yang selama ini dilaksanakan secara offline dapat berevolusi menjadi proses pelelangan yang online karena dapat mendukung prosers pelelangan yang memenuhi kriteria yang diinginkan. Untuk itu perlu dilakukan E-Procurement, yaitu pelaksanaan pelelangan konstruksi berbasis internet.

E-Procurement merupakan aplikasi dari pelaksanaan pelelangan secara elektronik berbasis internet. Aplikasi ini dapat berfungsi untuk media pengumuman, tempat penyimpanan dokumen sekaligus sebagai alat bantu dalam proses seleksi. Sehingga interaksi antara buyers dan vendors dapat dilakukan secara optimal, tanpa ada batasan jarak dan waktu.

Penyelenggaraan aplikasi e-procurement memerlukan waktu serta proses bertahap, karena adanya perubahan kebiasaan kerja yang fundamental serta kesiapan seluruh komponen sistem yang terkait. Oleh karena itu, urutan logis dari penerapan eprocurement, dimulai dari aktivitas yang dampak efisiensinya paling besar, namun mudah pelaksanaannya yang dibagi dalam beberapa tingkatan.

Metode Pelelangan Konstruksi

metode lelang konstruksi

Ada beberapa jenis pelelangan dalam proyek konstruksi, yaitu pe-lelangan umum dan pelalangan terbatas. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 ataupun Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 yang baru menyebutkan pada pasal 1 ayat (23) dan ayat (24) yaitu :

1.  Pelelangan umum

Yaitu adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya yang memenuhi persyaratan.

2. Pelelangan terbatas

Yakni adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks.

Menurut Lampiran 1-Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 19 Tahun 2015 mengatakan ada 6 metode pelelangan, yaitu :

  1. Metode pemasukan dokumen penawaran satu sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan.
  2. Metode pemasukan dokumen penawaran satu sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan.
  3. Metode pemasukan dokumen penawaran dua sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan.
  4. Metode pemasukan dokumen penawaran dua sampul. Selain itu ada-nya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan.
  5. Metode pemasukan dokumen penawaran dua tahap. Selain itu adanya prakualifikasi, sistem kontrak lump sum, dan tanpa penyetaraan.
  6. Metode pemasukan dokumen penawaran dua tahap. Selain itu adanya prakualifikasi, sistem kontrak gabungan lump sum & harga satuan, dan tanpa penyetaraan.

 

By |2019-06-07T07:42:14+00:00June 7th, 2019|Blog|