Sumber Pembiayaan untuk Bangunan Infrastruktur

Pernahkah Anda mendengar istilah pembiayaan bangunan dalam kehidupan Anda? Istilah tersebut sebetulnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kota atau negara terutama pada pembangunan infrastruktur. Dalam hal ini, jika suatu wilayah  semakin maju dan berkembang maka semakin besar pula kebutuhan akan pembangunannya. Tidak hanya itu, biasanya anggaran biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan kebutuhan pembangunan tersebut juga akan semakin besar.

Pentingnya Merencanakan Pembiayaan Bangunan

merencanakan pembiayaan bangunan

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, hal itu membuat negara tersebut harus melakukan pengadaan beserta perbaikan sarana prasarana serta pelayanan lingkungan akan selalu meningkat. Salah satu hal yang mesti dikerjakan adalah melakukan pembangunan infrastruktur.

Menurut Grigg (1988), infrastruktur itu sendiri diartikan sebagai sistem fisik yang menyediakan sarana transportasi, drainase, pengairan, bangunan gedung, serta fasilitas publik lainnya. Keberadaan hal tersebut pun sangat dibutuhkan terutama supaya dapat memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia baik itu kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan sosial.

Namun, untuk melakukan pembangunan itu sendiri juga diperlukan pembiaayan bangunan yang tidak sedikit. Hal ini dikarenakan akan ada anggaran yang harus dikeluarkan untuk merealisasikannya. Oleh sebab itu, penting sekali untuk mengetahui bagaimana rencana pembiayaan yang mesti dilakukan.

Sumber-Sumber Pembiayaan Bangunan

sumebr pembiayaan bangunan

Lalu dari mana bisa mendapat sumber-sumber pembiayaan untuk melakukan pembangunan infrastruktur? Ternyata, ada dua jenis pembiayaan pembangunan di antaranya adalah sumber pembiayaan pembangunan konvesional dan non konvesional.

1. Sumber Pembiayaan Konvensional

Sumber pembiayaan konvesional  merupakan salah satu sumber yang dapat dilakukan ketika suatu negara akan melakukan pembangunan. Sumber ini berasal dari pendapatan negara atau juga daerah.

Namun ternyata, sumber pembiayaan konvesional dapat menguras kas negara jika digunakan secara besar-besaran dalam pembangunan. Hal ini tentunya akan berdampak pada stabilitas perekonomian negara.

2. Sumber Pembiayaan Non Konvensional

Selanjutnya, ada yang dikenal dengan istilah sumber pembiayaan non konvesional. Pembiayaan tersebut berasal dari kerjasama antara pemerintah dengan swasta maupun masyarakat.

Sumber pembiayaan non konvesional yang satu ini dapat dibagi menjadi tiga jenis, di antaranya:

  • Pembiayaan melalui pendapatan
  • Pendapatan melalui hutang
  • Pembiayaan melalui kekayaan, misalnya  seperti obligasi, linkage, dan sebagainya.

Pemerintah dapat menggunakan sumber biaya tersebut untuk melakukan pembangunan infrastruktur. Selain itu, sumber-sumber pembiayaan tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dalam hal ini, maka sumber pembiayaan pembangunan non konvesional memiliki banyak variasi yang seharusnya dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal bagi negara yang merencanakan pembangunan. Tentunya, penggunaan sumerb biaya yang satu ini pun dapat meringankan beban pemerintah setempat untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur. Misalnya melakukan Publik Private Partnership (PPP) ataupun Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) yaitu kerjasama antara pemerintah dengan swasta dimana masing-masing pihak memiliki posisi yang seimbang dalam perusahaan yang bersangkutan.

Keberadaan kerjasama yang dilakukan dapat menjadikan pemerintah tidak perlu menanggung seluruh biaya pembangunan pada suatu proyek. Hal ini disebabkan karena biaya pembangunan tersebut juga lebih dititikberatkan kepada pihak swasta.

Oleh karena itu, pemerintah mesti mencari berbagai macam alternatif untuk mencari pembiayaan pembangunan non-konvesional. Sehingga, lewat sumber pembiayaan non konvensionla ini akan membuata pemerataan pembangunan di Indonesia dapat tercapai, terutama dalam hal pembangunan infrastruktur agar dapat terus meningkat.

Meskipun demikian, mencari berbagai sumber pembiayaan bangunan pun harus dilakukan dengan bijak. Hal ini mesti diperhatikan supaya tidak mendatangkan risiko dan dampak buruk bagi berbagai pihak yang dilibatkan. Misalnya, berpengaruh terhadap lingkungan juga kesejahteraan masyarakat.

By |2019-08-30T07:51:27+00:00August 30th, 2019|Uncategorized|